Selamat Datang Di Blog MOCHAMMAD WISNU, kalian yang hobi dengan OTOMOTIF bisa melihat-liat di blog MOCHAMMAD WISNU tips dan trik, semoga bisa Bermanfa'at, Thx buat MotorPlus, Tahu lebih, Lebih tahu Salam BIKERS

Kamis, 25 Agustus 2011

Keunggulan CDI Nouvo


Mekanik Thailand memang kadang suka memanfaatkan pengapian standar. Kalau dulu lebih senang memanfaatkan CDI BRT, kemudian beralih ke CDI Fino. Sampai produsen BRT juga memproduksi CDI yang kurvanya sama dengan Fino.

Kini mekanik Thailand juga senang menggunakan CDI asli pabrik. Di Yamaha Mio hasil korekan  bengkel MC Racing lebih memilih pakai yang punya Yamaha “Nouvo dengan kode 1P7 bagus buat top-speed,” jelas Miekeel

Solusi Awal Jika Motor Mati atau Mogok


Ketika motor mogok, usah panik. Beberapa part bisa dicek untuk mendeteksi letak permasalahan. Misalnya, ketika engine sulit untuk distarter. Bahkan ketika hidup pun, dalam hitungan detik mati lagi.

Kondisi ini, bisa dicek lewat seting kerenggangan setelan klep. Jika setelan klep terlalu rapat, bisa membuat motor agak sulit hidup. Dan, kondisinya seperti yang disebut di atas. Mesin cepat panas juga salah satu efek dari setelan klep terlalu rapat.

Cek juga stasioner rpm. Jika setelah mesin hidup lalu grip gas dilepas dan langsung mati, bisa saja karena stasioner terlalu rendah. Sebaiknya, seting stasioner sesuai ketentuan standar. Misal di 1.500 rpm.

Jika engine tidak mau hidup juga, bisa juga pastikan kondisi sekering. Yup, sekering 10 ampere yang biasanya terkoneksi dengan aki alias battery. Jika pengaman ini putus, tentu mesin enggak mau hidup.

Per Klep Kecil Honda Vario


  
Satu lagi, kesukaan mekanik Thailand akan barang-barang orisininal. Di Yamaha Mio MC Racing masih menggunakan per klep standar Mio. Agar sedikit lebih keras digabungkan dengan per klep kecil milik Honda Vario.

Secara logika, katanya menggunakan per standar tidak terlalu keras. Cocok untuk mesin-mesin matic yang punya rpm tidak terlalu tinggi. Sehingga mesin masih bisa teriak.

Per klep standar juga tidak bikin tenaga mesin berkurang karena tidak banyak gesekan.

Ganti Indikator, Jangan Lupa Kalibrasi Ulang Bensin


Sabar, maksudnya bukan mengkalibrasi bensin layaknya di SPBU. Tapi, ketika mengganti indikator penunjuk takaran bensin di motor, sobat kudu kalibrasi ulang. Terlebih jika sebelumnya pakai indikator jarum dan diganti model digital.

Sebab jika tidak dilakukan kalibrasi, bisa saja indikator tidak berfungsi sempurna. Ya, keadaan sesungguhnya bensin di dalam tangki gak dapat diperlihatkan dengan benar.

Misal, seharusnya kondisi bensin di tangki tinggal setengah, tapi di indikator yang baru menunjukkan kondisi full. Bisa mogok di jalan tuh! Kalibrasi, bisa dilakukan dalam keadaan tangki kosong atau full.

Caranya, dengan menyetel ulang ketinggian jarum pelampung di dalam tangki dan menyesuaikannya dengan indikator baru.

Antifog Helm Butuh Sirkulasi



 Antifog lokal, sirkulasi harus mendukung
Saat berkendara di hujan, biasanya visor helm langsung berembun. Itu disebabkan perbedaan suhu dengan di luar.

Antifog helm biasanya sudah dilengkapi pada helm mahal atau hi end. Biasanya, pada visor helm impor memiliki pinlock, yaitu pegangan untuk memasang antifog.

Lanjut! Antifog yang biasa dipasang berupa lembaran atau layer. "Harganya Rp 200-300 ribu dengan kualitas yang 100% antifog," terang Musi, juragan Siams Motor di Jl. Otista Raya No. 19A, Jakarta Timur.

Untuk helm lokal, pada visor tidak ada pinlock. Antifog bisa pakai cairan atau krim yang sudah banyak di pasaran. Bisa dioles atau disemprot di bagain dalam visor. "Cuma tidak sebagus antifog layer," tambah Musi panjang kali lebar.

Caranya, sebelum memberikan antifog, bersihkan dulu bagian dalam visor dari debu dan minyak yang nempel. Setelah bersih semprotkan cairan, lalu lap memakai tisu atau kain microfiber, agar tidak menimbulkan goresan.

"Antifog model ini tetap membutuhkan sirkulasi bagus. Makanya filter udara yang ada di helm perlu rutin dibersihkan dari debu dan kotoran. Bisa pakai sikat gigi bekas," anjur Musi.

Perhatikan Usia Pakai Part Helm



 Ganti komponen. Sesuai tipe helm
Seringnya helm rusak hanya pada bagian tertentu. Padahal belum lama dipakain. Seperti kaca lecet karena jatuh, kupingan pecah atau sebagainya.  Mau dibuang sayang, walau udah ada gantinya.

Nggak usah bingung, coba sedikit berburu ke toko helm. Kalau kaca helm, mungkin banyak, di pinggir jalan pun ada. Tapi, untuk part seperti kupingan atau side cover, rajet (dudukan kaca bagian samping), nose guard (busa bagian depan helm full face) bahkan busa lapisan dalam juga ada.

Untuk merek tertentu, toko atau distributor biasanya menyediakan. Seperti "Merek INK, KYT dan MDS untuk semua tipenya mulai kaca baik yang half face maupun full face ada. Untuk part lain juga  tersedia, seperti bagian samping. Tapi, yang lebih banyak dicari orang memang kaca," terang Lili dari Motochief di Kebon Jeruk III, No. 27, Kota, Jakarta Barat, distributor helm INK, KYT.

Menurut Suryo dari KPM, distributor helm dari Jl. Kebon Jeruk III No. 36A, Taman Sari, Jakarta Barat, penggantian part helm walau bisa, tetap mesti perhatikan lama penggunaannya. Kalau kerusakan itu terjadi pada helm yang usia pakainya sudah lebih dari dua tahun, mending beli baru.

"Karena struktur biji plastik yang bagian batok helm yang umurnya sudah dua tahunan pastinya sudah berubah," yakin distributor helm Snail dan GDR ini.

Batok plastiknya akan lebih getas, sehingga mudah pecah. Karena pengaruh pemakaian setiap hari dan juga cuaca ekstrem, panas dan hujan. Walau diganti secara fisik bagus, tetapi sudah tidak aman buat berkendara.

Suhu Mesin Pengaruhi Waktu Penggantian Air Radiator


Radiator atau pendingin air pada mesin terbukti bisa meredam panas. Komponen seputar ruang bakar, mulai dari blok hingga silinder head di selubungi air yang bergerak di dalam water jacket.

Meski lebih adem, bukan berarti tanpa perawatan. Agar tetap baik performanya meredam panas, air radiator wajib diganti secara berkala. Lalu kapan air radiator harus ganti? "Tiap motor punya masa penggantian yang berbeda," buka Endro Sutarno dari Technical Service Development PT Astra Honda Motor (AHM).

Mulai dari skubek, Honda PCX 125 harus ganti tiap 12 ribu kilometer. Sedang Vario hanya 10 ribu kilometer. Untuk motor sport bisa lebih panjang masa penggantiannya. Honda CBR 150R ganti tiap 24 ribu kilometer. Sedang CBR 250R bisa mencapai 36 ribu kilometer.

"Salah satu yang menentukan cepat atau lamanya masa penggantian adalah tingkat panas di dalam mesin. Kompresi tinggi atau mesinnya tertutup cover bodi seperti skubek akan lebih cepat penggantian air radiatornya," terang pria bersahaja ini.

"Makin lama titik didih air radiator menurun. Misalnya awalnya 120 derajat celcius baru mendidih, lama kelamaan baru 100 derajat celcius sudah mendidih. Makanya jadi berkurang dan kemampuannya meredam panas jadi menurun, makanya harus diganti," jelasnya.

Untuk penggantian air radiator, Endro menyarankan menggunakan air radiator keluaran Honda. Berlabel Pre-Mix Coolant bisa digunakan untuk semua radiator Honda mulai dari Vario hingga CBR 250R. Harganya pun murah, cuma Rp 17 ribu saja